Rss Feed Facebook Twitter Google Plus
Nikmatilah setiap detik anda membaca ARTIKEL, PUISI, HUMOR, CEPEN dan yang lainnya, semoga bermanfaat dan bisa menjadi motivasi anda dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Amin.

post:


Kamis, 19 Desember 2013

CINTA SATU MINGGU






Sebelum saya menceritakan kisah ku, kisah tentang percintaan yang mungkin menurut ada adalah cerita yang kurang menarik, namun bagi ku, kisah ini adalah kisah yang tak bisa terlupakan, kisah sejati yang akan selalu ada dalam setiap perjalanan hidup ku, karena tak mudah untuk melupakannya dan tak mudah untuk mendapatkan penggantinya, karena dia adalah sosok wanita yang begitu perfect bagi ku, lembut, baik hati, cantik, gak suka marah, dan yang paling mengasikkan ketika bersama dia adalah waktu dia berbicara, tutur bahasa yang sopan, lembut, apalagi iringan kata-kata dengan bibirnya begitu serasi sehingga membuat ku tak bisa melupakannya.

Oh ya…, perkenalkan, nama ku adalah Tori, nama panjang saya Tori Alamsyah, orang tua saya biasa memanggil saya Alam, namun temen-temen saya biasa dipanggil Tori, padahal saat aku berkenalan pada waktu OSPEK, dengan PD saya mengatakan nama panggilan saya adalah Alam. Tapi kenapa temen-temen ku memanggil aku Tori, aku jadi bingung. Anda bingung gak sob? Sudah lah…, hal itu gak usah dibahas, yang penting gak dipanggil Syah saja, entar semua jadi syah lagi, dikit…, dikit…, syah, saya ngomong gitu, syah. Ngomong gini, juga syah. Kan gak enak banget. Hehehe…

Saya kuliah disalah satu Perguruan Tinggi Negeri di mataram, yakni; IAIN Mataram. Namun karena saya ingin menceritakan kisah cinta sejati ku, maka saya tidak akan terlalu membahas cerita yang lain, oh ya…, nama pacar saya adalah LatIfa Anggraini, mahasiswa Fakultas Tarbiyah, jurusan PAI, sedangkan saya adalah Fakultas Dakwah dan Komunikasi, jurusan PMI, maklum…, cita-cita saya ingin mengembang desa saya, agar menjadi desa yang mandiri dan mampu bersaing dengan desa-desa yang lain, karena selama ini, desa saya jauh dari kata modern, walaupun desa saya merupakan desa pariwisata, Yakni desa Mekar Sari, dusun Tampah. Dan disanalah tanah kelahiran ku.

Setelah OSPEK berlangsung, pandangan ku tak luput dari wajah Ifa, sosok wanita yang membuat ku jatuh cinta tanpa sadar, karena kalo sadar adalah hal yang wajar dan lumrah terjadi, namun kali ini, perasaan ini tumbuh lebih kuat dibandingkan dengan apa yang tergambar dalam otak ku, gimana ya menjelaskannya kepada sobat, tentang rasa ini? Tapi yang jelas bahwa aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama yang tidak aku sadari setelah OSPEK berlangsung. Tapi sayang, aku pacaran hanya seminggu alias tujuh hari, dan hal ini membuat ku terpukul banget, stress, hampir tidak bisa mengontrol diri. Dan inilah hari-hari pacaran saya, yang ingin saya ceritakan kepada sobat semuanya. 

Hari Pertama

LatIfa Anggraini…, oh LatIfa Anggraini…, apakah kau tidak sadar bahwa aku jatuh cinta pada mu, sejak pandangan mata mu waktu itu, membuat malam-malam ku jadi tak tenang. Wajah mu, senyuman mu, tatapan mu hadir menghantui ketika aku mau memejamkan mata ini. LatIfa Anggraini…, oh gadis pujaan hati ku, aku jatuh cinta mu… aku mengigau setiap malam, dan tak bisa memjamkan mata seperti biasa, dan ketika aku bangun, aku berharap dapat melihatnya kembali, dengan senyuman yang sama, tatapan yang sama dan wajah yang berseri, namun sayang tiga hari ini, aku tidak pernah melihatnya, walau aku selalu menunggunya dijalan yang sama, di mana jalan tersebut adalah jalan yang selalu ia lewati setiap pergi kuliah.

Malam hari aku selalu kebingungan, kepada siapakah aku mencari tahu kabarnya, bingung dan membuat ku tak bisa tidur dengan nyenyak. Namun hari keempat berkata lain, dan hari inilah, awal dari jawaban do’a dan kerinduan yang menggelora dalam diri ku. Setelah malam yang menyiksa diri ku dengan banyangan wajahnya, akhinya pagi itu, aku mendapatkan sebuah surat pertama dari LatIfa Anggraini, yang dikirim lewat temennya, dan temennya itu adalah temen kelas aku sendiri. Awalnya aku bingung, ini surat dari mana dan untuk siapa dan dari siapa? Anehnya lagi, amplop yang digunakan adalah amplop cinta, ada gambar cinta yang melingkar dengan indah. Dengan bau harum yang membuat saya semakin bingung.

Setelah aku buka, ternyata dari LatIfa Anggraini, yang isi suratnya seperti ini;

Dear Tori Alamsyah

Semoga Allah SWT selalu menjaga mu dan memberikan nikmat sehat kepada mu, maaf jika aku tak bisa bertemu langsung dengan mu, mungkin aku katrok dengan menggunakan surat, padahal ada alat komunikasi yang lebih canggih, yakni HP. Namun aku tak pernah memiliki HP, karena aku tak mau punya HP. Wahai hamba Allah, sejak pertama kali melihat mu waktu itu, entah apa yang aku rasakan, ada perasaan aneh yang timbul dalam hati ku, pandangan mu waktu itu membuat ku tak bisa merasakan ketenangan, walau aku ingin membuangnya dalam diri ku, tapi aku tak bisa.

Wahai hamba Allah…, sejatinya aku tak pantas merasakan ini, namun aku sendiri bingung akan perasaan ini, aku terombang-ambing dengan perasaan aku sendiri, hingga aku memberanikan diri untuk menulis surat ini untuk mu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku telah jatuh cinta pada mu, namun apakah aku pantas merasakan ini semua? karena aku adalah gadis biasa yang tak mengenal arti cinta. Semoga kau mengerti akan semua ini. Terima kasih engkau telah mau membaca surat ku ini.
By; LatIfa Anggraini


Dalam hati, ‘inilah yang ku tunggu-tunggu’ selama ini, bukan hanya aku saja yang tidak tenang dalam menikmati indahnya malam, namun dia juga merasakan hal yang sama seperti ku. Kebahagiaan ku tak terkira, sungguh ini adalah hari yang paling indah sedunia. Setelah membaca surat itu, berulang-ulang kali, aku menciumnya, dan merasakan keharuman yang menyejukkan jiwa ku. Tak banyak waktu, langsung aku mengambil pena dan buku untuk membalas suratnya ini, hingga pagi itu, aku tak bernagkat kuliah karena sibuk menulis surat. 

Berulang-ulang kali aku menulis, namun masih saja terasa tidak mengena, hingga bak sampah kecil yang ada, penuh dengan sobekan kertas. Bingung…, bingung dan bingung, mau menulis apa, perasaan terlalu bahagia dan grogi dalam menulis surat balasan untuk LatIfa Anggraini. Hingga pada akhirnya, setelah berjam-jam, surat balasan ku jadi juga, walau balasan ini juga tak akan menyentuh hatinya, dan menerima cinta ku. Karena ini adalah pertama kalinya aku menulis sebuah surat kepada gadis, biarlah, yang penting aku bisa menyatakan cinta ku padanya.

Dear LatIfa Anggraini
Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Semoga Allah SWT juga menjaga mu dan memberikan mu nikmat sehat yang tak terhingga, sungguh indah bahasa mu, membuat ku begitu bahagia dan tak menyangka akan perasaan yang kau miliki. Karena selama ini, aku juga merasakan hal yang sama, banyangan wajah mu, senyuman mu waktu itu membuat aku tak pernah tidur dengan nyenyak. Kau selalu hadir menghantui ku setiap malam-malam ku. Wahai hamba Allah, tak ada yang katrok di dunia ini, karena tak memiliki HP bukan berarti kita tidak di sayang sama Allah, Sang Maha Pencipta yang paling sempurna.

Wahai hamba Allah…, aku pun telah jatuh cinta kepada mu, tanpa aku sadari perasaan ini telah membuat ku tak mengerti akan diri ku sendiri, kebingungan dan tak tahu arah akan hari-hari yang aku jalani. Terima kasih atas perasaan mu pada ku, aku sangat bersyukur akan semua ini, do’a yang aku hajatkan selama ini telah terjawab dengan datangnya surat mu pada ku. Dan saat ini, betapa aku ingin bertemu dengan mu, untuk meringatkan rasa rindu yang selama ini menggelora, walau tanpa kau sadari bahwa setiap hari aku selalu menunggu mu dijalan yang biasa kau lewati hanya sekedar untuk melihat mu, namun tiga hari ini, aku tak lagi melihat mu dan membuat ku semakin kebingungan dan tak tahu kemana aku mencari informasi tentang keadaan mu.

Wahai hamba Allah…, mau kah kau bertemu dengan ku walau hanya sebentar? memastikan bahwa apa yang aku rasakan ini adalah kenyataan, dan ingin sekali rasanya menatap wajah mu yang berseri lebih dekat lagi. Sekali lagi, terima kasih banyak atas kebahagiaan yang telah engkau berikan kepada ku hari ini, dan aku akan mencatat semua ini sebagai hari yang terindah sepanjang hidup ku.

By; Tori Alamsyah
                                                                                                                       

Setelah saya selesai menulis surat, saya langsung menuju kampus untuk bertemu dengan Indi, untuk memberikan surat balasan kepada LatIfa Anggraini. Dengan perasaan was-was dan bahagia, aku langsung menuju kampus 1 IAIN Mataram, dengan sepeda motor perjuangan yang selama ini menemani ku kemana pun aku pergi. Saat sampai di kampus, kebetulan pertemuan pertama sudah berakhir, dan berlanjut dengan pertemuan kedua.

Tori      : indi…, indi…, Tori memanggil indi yang sedang berjalan ditangga menuju lantai bawah. Bisa ngobrol sebentar gak?
Indi     : ada apa emang Ton…?
Tori      : gak ada apa-apa sih…, ada yang ingin aku berikan kepada mu…!!!
Indi     : pasti balasan surat untuk Ifa ya…!!!
Tori      : kok kamu tahu…?
Indi     : ya tahu lah…, kan tadi pagi aku yang nganter suratnya indi pada mu.
Tori      : bisa gak kamu berikan surat ini kepada Ifa…? Tori mengambil surat ditasnya.
Indi     : bisa kok ton…, tenang aja, pasti nyampai kok, indi kan temen kosnya Ifa.
Tori      : terima kasih banyak ya, indi. Kamu memang temen ku yang paling baik. hehe…
Indi     : kamu ini bisa aja, lo ada maunya, baru bilang temen yang paling baik, kemarin-kemarin kemana…? Sahut indi sambil pura-pura jengkel sama Tori.
Tori      : heemmm…, ya deh ya…, tapi please ya, surat itu harus sampai, agar suara hati yang paling dalam ini, bisa dibaca sama Ifa.
Indi     : so…, swit… ya, tenang aja, pasti sampai kok.
Tori      : ma kasih ya, ma kasih banget atas bantuannya. Oh ya, pertemuan kedua kita masuk?
Indi     : sama-sama…, gak, hari ini bapak itu gak masuk, kebetulan dia lagi berhalangan hadir, jadi hari ini kita free.
Tori      : oh gthu…, sekali lagi terima kasih banyak ya, aku pulang dulu. Bay…, indi yang cantik…, hehe…
Indi     : ya, sama-sama. Hati-hati Ton.

Setelah saya selesai negobrol dengan Indi, saya beranjak menuju parkiran kampus untuk mengambil motor dan pulang ke kos. Perasaan lega, bahagian namun sedikit merasa deg-deg-kan. Berharap waktu cepat berjalan agar segera menerima balasan dari Ifa. Setelah sampai di kos, saya langsung mencari surat Ifa dan menciumnya berulang kali, bau harum surat itu, membuat hati saya begitu bahagia bukan main, sampai-sampai, surat Ifa saya taruh di dada, memeluknya dan membawanya beristirahat, berharap surat tersebut mengantarkan Ifa hadir dalam mimpi saya.

Bersambung…!!!
Hari Kedua
Hari Ketiga
Hari Keempat
Hari Kelima
Hari Keenam
Hari ketujuh

Read more

Rabu, 18 Desember 2013

Kakek Ku yang Lucu






Ini merupakan cerita nyata, yang tidak ada sama sekali rekayasa, karena peristiwa ini adalah peristiwa yang saya alami sendiri ketika bersama kakek saya sebelum meninggal dunia, dan saya berharap segala amal ibadahnya dapat diterima oleh Allah SWT dan diampuni segala dosa-dosanya. Amin ya rabbal alamin. Pada waktu itu, kakek saya berada di rumah Sakit Umum Praya Lombok Tengah karena kondisi yang sangat kritis.

Sore itu, saya bersama saudara laki-laki saya, yang bernama Herman Budi menjenguk kakek dengan harapan tidak terjadi apa-apa. Dengan menggunakan sepeda motor, kami berangkat dari batujai menuju RSU Praya lama, dengan kecepatan yang biasa-biasa saja karena banyak polisi yang berkeliaran patroli bahkan mencari pengguna sepeda motor yang tidak taat aturan.

Pada waktu itu, sepeda motor yang saya bawa, STNKnya sudah mati (belum diperpanjang) sehingga selain khawatir dengan kakek, kami berdua juga khawatir ketemu dengan pilisi, takut ditilang karena STNKnya sudah mati selama satu tahun. Namun apa yang kami khawatirkan tidak terjadi, kami tidak bertemu dengan polisi, karena melewati jalan-jalan yang jarang dilalui oleh polisi, maklum…, waktu itu, dompet lagi kritis.

Saat kami sampai di RSU Praya lama, herman budi pergi untuk memarkir sepeda motor sesuai dengan tempatnya, sedangkan saya langsung menuju ruangan kakek, ingin segera melihat keadaannya, dengan pikiran yang was-was, saya selalu berharap dan berkata dalam hati ‘mudahan kakek gak apa-apa’, berulang-ulang kali dan ungkapan tersebut berhenti saat saya sampai dan melihat kakek lagi terbaring dengan santai, tidak ada hal-hal yang berbau negatif, semua yang ada dalam ruangan duduk sambil bercanda dengan keluarga masing-masing.

Saya yang baru datang, langsung menuju tempat kakek istirahat dan mencium tangannya sesuai dengan kebiasaan yang saya lakukan. Sejak itulah saya merasa lega dan tenang, saudaranya saya yang datang belakangan, datang dengan nafas yang terengah-engah, karena capek berlari, namun dia juga merasa lega sama seperti saya dengan kondisi kakek yang masih membaik.

Beberapa selang waktu kemudian, paman saya, menyuruh saya untuk mengajak kakek ngobrol, agar kakek merasa tidak sendirian. Saya pun memulai dengan bertanya sama kakek saya;

Saya              : kek, coba kakek baca surat Al-fatihah…?
Kakek             : dengan suara perlahan, kakek membaca surat Al-fatihah dengan diawali dengan ucapan bismillahirrohmanirrohim, kemudian membaca surat Al-fatihah dengan lancarnya.
Saya              : kakek pinter banget, ternyata masih segar ingatan kakek.
Kakek             : haha…, haha…, haha…, kakek tertawa dengan panjang namun dengan suara pelan.

Saat kakek tertawa dengan leganya, semua mata tertuju padanya, dan pada ahirnya mereka semua, yang berada dalam ruangan tersebut ikut tertawa dengan puas.  Dan saya pun ikut tertawa dengan bahagia.

Ya Allah…, yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang.
Ampunilah segala dosa kakek dan nenek saya, baik yang disegaja maupun tidak disegala, tempatkan beliau ditempat yang indah. Terimalah amal perbuatannya yang baik sebagai bentuk seorang hamba yang taat terhadap perintahMu dan takut terhadap laranganMu. Amin Ya Rabbal Alamin.

Read more

Cerita Masa Lalu: Aku Seorang Mahasiswa KPI






Semester 1-3

Pada ajaran baru 2007-2008, saya resmi menjadi mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi, jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Mataram. Tanpa pemahaman apapun tentang apa yang akan saya pelajari dan jumlah mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa KPI pada waktu itu kurang lebih sekitar 30 lebih, dan terbagi menjadi dua kelas (kelas A dan B) dan saya termasuk kelas B dengan jumlah sekitar 15 orang.  Angkatan saya pada waktu itu adalah angkatan terbanyak sepanjang Fakultas Dakwah berdiri sebagai fakultas baru. Namun hal tersbeut tidak menyurutkan, bahkan yang menjadi label dalam diri saya pada waktu itu adalah ‘bangga’, hehehe…, namun sebenarnya, label dalam diri saya pada waktu itu bukan karena jurusan KPI, melainkan bisa diterima dan menjadi mahasiswa. Sekaligus sebagai salah satu anak, yang dari sekian saudara bisa sampai pada bangku kuliah.

Pada waktu semester satu, tidak ada yang patut dibaggakan dari saya, apalagi dengan IP yang dibawah standar, yakni; 2,89. Sungguh memalukan. Namun yang paling seru yang saya rasakan adalah ketika masuk perkuliahan, rajin, rapid an tak pernah telat, bahkan hadir 10 menit sebelum dosen datang. Maklum…, namanya juga mahasiswa baru. Hehe…, Kejadian ini terus berlangsung selama satu semester. Waktu semester dua, tidak ada perubahan sama sekali dalam diri saya, yang saya utamakan adalah kuliah dengan rajin dan berharap dapat IP tinggi, namun harapan tersebut tidak pernah terwujud, bahkan pada semester dua, IP saya turun menjadi 2,75. Entah apa penyebabnya! Padahal saya rajin dan selalu mengerjakan tugas sesuai dengan jadwal.

Memasuki semester tiga, saya merasa heran dengan IP yang saya dapatkan selama ini, kok makin berkurang? Yang berdampak pada pengambilan mata kuliah yang semakin berkurang, dan mewajibkan saya untuk mengulang pada semester depan. Mungkin jawaban atas permasalahan yang saya hadapi adalah kebodohan saya. Saya tidak pernah aktif dalam bertanya maupun yang lainnya, waktu presentasi aja, saya tidak pernah menjadi pemateri, hanya sebagai moderator saja. Bahkan menjadi moderator pun saya bingung, mau ngomong gimana…!!!

Kejadian yang paling tidak bisa saya lupakan sampai saat ini adalah ketika presentasi Ilmu Kalam (Mutazilah), dosennya pada waktu itu adalah Pak Muhammad Sa’I, MA, dan tema yang saya dapatkan adalah membahas tentang ke-Esa-an Tuhan versi Mutazilah. Pada waktu itu, temen saya dalam presentasi sama-sama tidak memahami apa yang harus dipresentasikan, namanya adalah Hartawan. Hartawan melimpahkan semuanya pada saya, sehingga saya harus bertanggungjawab atas makalah tersebut. Dua minggu sebelum presentasi dimulai, saya mencoba menghapal poin-poin penting dalam makalah yang saya buat, dan Alhamdulillah pada waktu itu, saya merasa yakin akan bisa mempresentasikannya dengan baik.

Pada waktu presentasi, saya mencoba menenangkan dan focus terhadap hapalan yang ada, berharap tidak lupa. Ketika hartawan membuka acaranya, sekaligus sebagai moderator pada waktu itu. Tibalah giliran saya untuk mempertanggungjawabkan makalah, dengan jantung yang berdetak tidak seperti biasanya membuat saya gemetaran, dengan ucapan bismillahhirrohmanirrahim, saya pun memulai, namun tidak pada sampai pada pembahasan materi, hanya sampai pada ucapan-ucapan terima kasih, materi yang saya hapal tiba-tiba tidak bisa muncul dari ingatan, baju ku terasa basah karena keringat yang keluar secara spontan. Yang pada akhirnya, saya tidak dapat mempresentasikan makalah dengan baik, dengan konsekuensi yang harus saya terima adalah nilai C. namun sejak saat itulah, saya bertekad untuk tidak kuliah lagi selama satu tahun.

Semester 4-6

Sejak kejadian yang memalukan tapi menjadi manis bagi saya, saya mencoba memulai cara baru agar kejadian itu tidak terulang lagi. Dengan kata terpaksa, saya harus meninggalkan kuliah selama satu tahun, demi menebus kesalahan ku selama ini. Sejak saat itu, akhirnya saya kembali aktif dalam organisasi, karena sebelumnya saya juga aktif, namun kali ini saya lebih aktif lagi. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah organisasi ku, organisasi yang mengjarkan ku tentang banyak hal. Pada waktu semester empat, saya dimandatkan untuk menjadi Ketua Rayon Dakwah, karena hanya saya-lah yang paling aktif dan satu-satunya yang masih bertahan, sahabat-sahabat ku yang samaan mapaba, entah pada kemana.

Setelah menjadi ketua rayon, dengan suara yang mutlak saya dapatkan, akhirnya saya lebih belajar lagi, tentang bagaimana berkomuniksi dengan baik, baik dengan satu orang maupun dengan banyak orang. Pertama kali dalam benak saya adalah saya harus bisa ngomong. Yang pada akhirnya IP saya tidak ada sama sekali alis O. namun karena semangat untuk merubah sifat saya, akhirnya saya merasa tidak peduli dengan kuliah, lebih peduli kepada oragnisasi, berpikir tentang berbagai macam kegiatan yang harus dilaksanakan, keberlangsungan organisasi, dan lainnya, membuat saya jauh berbeda dari sebelumnya. Dan pada waktu itu “Kampus Ku adalah Rumah Ku”

Menjelang semester enam, saya pun berakhir menjadi ketua rayon, saya dedimisioner dengan perdebatan panjang, yang mengakibatkan waktu pemilihan ketua rayon baru semakin lama. Sejak saya menjadi ketua rayon, rayon dakwah kemudian dirubah menjadi rayon Al-Ghazali, perubahan ini bersama beberapa senior saya, yakni Muhammad Awwad, Miftahur Ridho, Muhtar Toyib, dan Heri lembar, dan saya sebagai ketua rayon. Setelah saya berakhir, saya diangkat menjadi ketua bidang Media dan Informasi oleh sahabat Salas Madrid, sebagai ketua Komisariat terpilih.

Semester 7-9

Identitas saya menjadi mahasiswa lagi, kembali ketika saya semester tujuh, awal semester tujuh saya kembali kuliah, dan mengambil kuliah pada semester tiga. Dan disinilah saya memulai memperbaiki semua yang telah saya perbuat. KPI C semester tiga adalah sejarah yang tidak bisa saya lupakan, dimana saya berbaur dengan adek tingkat dan sedikit rasa malu, namun karena rasa ingin memperbaiki semua yang telah saya mulai, rasa malu terbuang dengan perlahan. Dari IP yang jauh dibawah standar, kini mulai meningkat, pada akhir semester dan melihat hasil yang saya dapatkan, ternyata ada kepuasan didalam diri saya walaupun sedikit, IP saya naik menjadi 3,04. Dan pada waktu semester delapan, IP saya kembali melunjak menjadi 3,73. Dan pada waktu semester Sembilan, aku mulai KKP, karena kuliah sudah berakhir, tinggal beberapa mata kuliah yang harus saya tempuh dengan cara yang berbeda, agar tidak mengulang lagi.

Semester 10-11

Semester sepuluh, tidak ada yang berkesan, tinggal menikmati hasil dari perjuangan ku, proposal skripsi diterima, dan menyelesaikan PKL. Setelah PKL selesai, beban terasa semakin berkurang. Karena saya tidak bisa wisuda pada semester sepuluh, karena mengulang beberapa mata kuliah, akhirnya saya harus menerima semuanya dengan lapang dada. Pada semester sebelas, skripsi mulai saya garap dengan harapan penuh, dengan Pembimbing; Dr. Faizah, MA dan St. Nurul Yakinah, M. Ag. Dengan judul skripsi, “Pengaruh komuniksi antarpribadi terhadap Solidaritas masyarakat (Studi Kasus Masyarakat Tanak Beak, Kec. Narmada, LOBAR)”.

pada tahap akhir, dimana pada waktu hampir saja, saya tidak bisa melaksanakan ujian, karena buk Faizah masih meragukan saya, mungkin beliau mengira bahwa saya tidak bisa mempresentasikan dengan baik. karena pengalaman beliau bahwa ada mahasiswa yang tidak lulus ujian. Namun karena ini adalah kesempatan yang tidak bisa saya abaikan, saya meminta izin dengan sangat kepada buk Faizah untuk memberikan kesempatan kepada saya untuk ikut ujian, dan akhirnya beliau mengizinkan saya.

Penguji saya pada waktu itu adalah, Pak Dr. Kadri. M. Si dan Pak Muhammadun, M. PS. Dengan perasaan yang grogi dan berbagai macam tekanan, akhirnya saya pun lulus, dengan nilai A. dan disinilah kebahagian yang paling saya rasakan, ketika lulus ujian dan pada waktu wisuda. Kebahagiaan yang tak bisa digambarkan dengan apapun.

Read more

Selasa, 17 Desember 2013

Merdeka atau Mati






Merdeka atau mati, kata yang penah dihembuskan oleh soekarno ketika melawan penjajahan belanda, kata ini, menjadi spirit bagi para pejuang kemerdekaan bangkit melawan demi kemerdekaan bangsa Indonesia, yang pada akhirnya kemerdekaan Indonesia dapat dicapai. Namun apakah kemerdekaan sejati sudah kita rasakan? Mungkin ‘ya’ mungkin juga ‘tidak’, entah dari sudut pandang mana kita mengartikannya. Yang jelas, Kemerdekaan Indonesia secara fakta sudah kita dapatkan, sehingga tidak perlu kita bahas lagi, alias ‘basi’.

Merdeka atau mati dalam pembahasan ini bukan tertuju pada nilai perjuangan untuk merebut kemerdekaan bangsa, namun lebih kepada merebut atau berjuang untuk kemerdekaan ‘masa depan’ diri sendiri. Dan lebih menyempit lagi pada esensi nilai perkuliah yang kita jalani, khususnya bagi mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Sebelum membahas lebih jauh tentang tema diatas, saya ingin mengatakan dengan bangga bahwa Saya adalah alumni Fakultas Dakwah Dan Komunikasi IAIN Mataram, jurusan KPI, walau terkadang jurusan ini, sering dilecehkan atau dimarjinalkan oleh fakultas yang lain, termausk fakultas Syariah dan Tarbiyah. Apalagi ketika Fakultas Dakwah dan Komunikasi dikatakan sebagai Fakultas ‘halo-halo’ karena berbasis pada penyiaran atau dakwah. Bahkan saya sendiri pernah disindir oleh orang tua bahwa “mau berdakwah kemana besok setelah wisuda?”. Miris dan menyedihkan.

Kesadaran masyarakat akan perguruan tinggi hanya berlandaskan pengalaman atau kenyataan yang ada, menjadi guru adalah salah satu tujuan membiayai anaknya untuk menempuh jenjang S1, tidak melihat pada realitas pergeseran paradigma yang muncul secara universal, karena pada dasarnya masyarakat tidak memahami hal tersebut. Dengan demikian, perlu ada sambungan kepada masyarakat sebagai bentuk menyadarkan masyarakat bahwa untuk menjadi orang sukses tidak hanya menjadi guru, karena kuliah adalah awal untuk mencari identitas diri atau jati diri yang sesungguhnya. Sehingga perlu kita bertanya, Masihkah kita bersifat seperti anak SD atau sudah memiliki paradigma baru sebagai basis keiilmuan yang kita dapatkan?, mari kita jawab bersama.

Salah satu penyambung lidah yang paling epektif adalah mahasiswa itu sendiri, di mana mahasiswa berpungsi sebagai perubah paradigma lama menuju paradigma baru, tidak jauh beda seperti yang dikemukan oleh Thomas Kuhn tentang ilmu pengetahuan, bahwa ilmu pengetahuan selalu akan berubah-ubah, teori lama akan di makan oleh teori baru, dan teori baru akan dibabat oleh teori yang lebih baru lagi, walau teori lama masih dapat dipergunakan. Sehingga, tugas yang diemban mahasiswa selain menuntut ilmu adalah untuk memberikan pemahaman baru bagi masyarakat tentang esensi kuliah, janagn sampai paradigma tradisional terus membuat masyarakat terisolasi, sehingga berdampak pada paradigma yang monoton. Akan tetapi, mahasiswa perlu memiliki cara-cara khusus agar paradigma baru tidak merusak paradigma tradisional tersebut.

Untuk dapat berkomunikasi secara langsung dengan masyarakat, tentunya mahasiswa harus memiliki kecakapan dalam berkomunikasi, karena komunikasi adalah prasyarat dalam kehidupan manusia. Dengan demikian mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam-lah yang dapat melakukan semua ini, karena memiliki basis keilmuan yang sesuai dengan kebutuhan zaman dewasa ini,  karena pendidikan dan hukum bukan hal yang baru. Komunikasi adalah proses sosial di mana individu-individu menggunakan simbol-simbol untuk menciptakan dan menginterpretasikan makna dalam lingkungan mereka. sedangkan secara sederhana, penyiaran adalah proses penting dalam memberikan informasi. tanpa penyiaran atau memberikan informasi tentang konsep yang dimiliki maka konsep tersebut hanyalah konsep yang bersembunyi dibalik kecerdasan (bulsit).

Penyiaran dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi atau memanfaatkan kepandaian, kecakapan berkomunikasi atau ketrampilan, Untuk merencanakan, memproduksi, dan Menyiarkan siaran, dalam usaha mencapai Tujuan bersama, sesuai dengan kaidah-kaidah agama yang tercantum dalam Al-Qur’an. Hal inilah yang mendasari pentingnya peran Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) sebagai penyambung lidah bagi masyarakat.

Theory of Self Betterment (Teori Perbaikan Diri).

‘Merdeka bukan berarti kita merdeka’, begitu pula, ‘mati bukan berarti kita mati’, merdeka adalah awal baru, di mana kita bebas berekspresi sesuai dengan keinginan kita, mau menjadi artis, penulis, guru atau dosen, terjun menjadi birokrasi, dan yang lainnya. sehingga ketika merdeka, kita perlu menyiapkan bekal untuk memulai menghadapi tantangan, jangan sampai merdeka adalah awal penjajahan baru bagi kita. Sedangkan, mati juga merupakan awal baru, awal untuk memulai sesuatu yang tidak pernah kita lakukan, misalnya; hari kemarin, kita tidak pernah beraktivitas, yang kita lakukan hanyalah berdiam diri dalam kamar, menikmati nikmatnya tidur. Kemudian besoknya, apa yang kita lakukan kemarin merupakan bagian dari refleksi, sehingga kita tidak mengulanginya lagi, bahkan ketika kita sadar, banyak sekali pengalaman-pengalaman atau hikmah yang kita dapatkan. Dengan kata lain, hari kemarin adalah hari kematian bagi kita, sedangkan hari besok adalah hari kehidupan baru. Inilah kemudian saya namakan menjadi Theory of Self Betterment (teori perbaikan diri).

Merdeka adalah bagian kecil dari sebuah perjuangan, karena kemerdekaan yang sesungguhnya tidak pernah kita dapatkan, baik itu kemerdekaan diri, kemerdekaan, kelompok, maupun kemerdekaan bangsa secara universal. Sedangkan, mati adalah kekuatan diri dalam menilai kemampuan (skill), atau mati adalah bagian dari refleksi diri agar tidak jatuh pada lubang sama, bukan mati yang selama ini kita tafsirkan sebagai akhir dari kehidupan.
Read more
 

Popular Posts

Data Pengunjung

Putra NTB Menulis (BATUJAI)

Total Tayangan Halaman